Home > HOLLYWOOD, Movies, Resensi > X-Men: First Class

X-Men: First Class

Manusia, sejak lahir dengan segala keterbatasannya, menuju aqil baligh hingga menuju ke frase kedewasaan secara implisit menimbulkan rasa memiliki kebutuhan (atau bisa jadi adalah keinginan) untuk diakui dan diterima. Penerimaan ini baik diterima oleh keluarganya, kerabat dan bahkan masyarakat secara umum adalah proses alamiah sebagai bagian dari pengakuan eksistensi dirinya. “Keberadaan manusia adalah keberadaan bersama.” kata Heidegger.

Penerimaan masyarakat atau kelompok bisa jadi berbeda dan memiliki dualisme, pertama adalah masyarakat menerima perbedaan secara apa adanya, dan yang kedua adalah masyarakat menerima berdasarkan kesamaan. Persepsi yang kedua inilah yang kemudian mengkotak-kotakkan bahkan sampai pengucilan terhadap makhluk tuhan yang dalam kitab suci secara tegas menyatakan bahwa mereka dimata tuhan itu sama.

Mungkin itu dapat dimengerti mengingat keinginan untuk diterima ini, meminjam simpulan teori kekosongan dari Rollo May yang menyebutkan: Kesendirian ditakuti bukan karena kesendiriannya, melainkan karena dengan itu maka individu itu akan kehilangan diri dan keberadaannya. Pengakuan akan eksistensi manusia yang terlahir berbeda atau abnormal inilah yang selalu menjadi tema besar yang membayangi di setiap seri film X-Men, tak terkecuali dengan film terbaru garapan sutradara yang menanjak populer lewat Kick Ass (2010), Matthew Vaughn berjudul X-Men: First Class ini.

Sebuah fiksi yang mengajak penonton untuk membaca ulang sejarah terbentuknya kelompok mutan yang berisikan manusia-manusia dengan kekuatan dan kelebihan yang unik nan aneh bersetting 1962, atau menjelang perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Jauh sebelum Charles Xavier plontos duduk di kursi roda dan begitu pula dengan sahabatnya, Erik Lehnsherr sebelum menjadi main villain dengan alter-ego mahsyur bernama Magneto.

Memdalami film ini secara garis besar membuat penonton otomatis diarahkan untuk bersentuhan dengan kisah laku hidup karakter Raven, Erik Lehnsherr, Hank McCoy, dan tentu saja Prof. Charles Xavier. Erik muda berkabung sekaligus memendam dendam kesumat terhadap kisah masa lalunya yang kelam dan kejam saat bersinggungan dengan dunia kamp konsentrasi Nazi di Polandia, terutama saat orang dia sayangi tercerabut dari akar hanya karena dia tidak mampu mengeluarkan potensinya untuk mengangkat sebuah koin di depan seorang jenderal Nazi.

Professor Charles Xavier: There’s so much more to you than you know, not just pain and anger. There’s good in you too, and you can harness all that. You have a power that no one can match, not even me.

Pertemuan Erik dengan Xavier sejak peristiwa penggerebekan kapal Sebastian Shaw yang kemudian berlanjut kepada pertemanan diantara keduanya tetap tidak menciutkan niat untuk mengapresiasikan apa yang selama ini dia simpan direlung hatinya. Cara Erik bersikap terhadap sesama mutan digambarkan secara tertutup oleh Fassbender, seolah menegaskan bahwa jalan yang ditempuh Erik dalam membangun kepribadian yang didasarkan dari efek traumatis masa lalunya adalah jawaban paling bermakna sehingga potensi kebaikan diri yang coba dijelaskan oleh Xavier ketika membengkokkan pemancar raksasa mental begitu saja.

Kerapuhan Erik juga terpatri pada sebuah pandangan ekstrim yang menyatakan bahwa jika dunia tidak menerimanya, maka dia pun tidak akan menerima dunia. Pandangan yang berseberangan inilah yang akan menjadi cikal bakal terperciknya rasa permusuhan diantara kaum mutan yang ditandai oleh deklarasi oleh Erik untuk melawan manusia yang diamini oleh beberapa mutan labil buah hasil rekrutannya.

Jika Erik adalah moment sebagai jembatan antara film ini dengan instalasi tiga film sebelumnya, maka Raven dan Hank McCoy adalah karakterisasi utama yang di titik beratkan mengenai kondisi psikis atas eksistensi mereka terhadap kata normal. Seperti kebanyakan mutan lainnya dalam mendefinisikan kata normal dengan berbagai cara seperti berusaha menjadi manusia biasa atau bersembunyi bagi mereka yang tak mampu merubah diri khususnya secara fisik, Raven digambarkan paling signifikan sebagai mutan yang tertekan karena ketidak-normalannya ini dengan mengambil wujud sebagai perempuan jelita (yang menurut salah seorang temen saya adalah seksi bin bohai) bernama asli Jennifer Lawrence.🙂

Penokohan dalam “kondisi tertekan” yang dijabani Raven sebenarnya agak absurd dengan catatan di beberapa sisi raut wajahnya cenderung bermakna yang mengisyaratkan bahwa dirinya menikmati nasib itu, hingga tak berlebihan jika kemudian saya menganggap itu anugerah. Hal ini berkaitan dengan biaya kesempatan, meminjam istilah ekonominya adalah Opportunity-cost, yakni dengan memanfaatkan keterbatasan meski semua orang tau kesempurnaan itu milik tuhan, setidaknya kita berusaha untuk mendekati. Maka keputusan yang diambil oleh Raven di akhir cerita adalah pilihan yang tepat.

Professor Charles Xavier: Listen to me very carefully, my friend: Killing will not bring you peace.
Erik Lehnsherr: Peace was never an option.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Hank McCoy yang cerdas dalam bidang politik namun berkaki binatang serupa kingkong, karakter yang ditampilkan pemalu nan kutu buku ini berusaha keras untuk membuat serum supaya bisa menjadi manusia normal yang setelah disuntikkan malah merubahnya menjadi Monster buruk rupa yang sekujur tubuhnya diliputi bulu lebat berwarna biru gelap. Karakter Hank yang kemudian lebih dikenal dengan nama Beast ini agak membingungkan saya, mengingat dalam film X-Men: the Last Stand (2006) dia di gambarkan sebagai seorang yang tidak hanya pintar dibidang teknologi melainkan juga duta besar utusan mutan dalam pemerintah yang otomatis menegaskan bahwa dia juga mahir dalam urusan sosial-politik, entahlah.

Erik Lehnsherr: Tomorrow, mankind will know that mutants exist. They will fear us, and that fear will turn to hatred.

Bila sang calon Magneto menyikapi pengucilan atas eksistensinya dengan melawan kelompok yang telah mengsingkan dirinya, Raven dengan menyembunyikan identitas dengan merubah diri menjadi siapapun yang dia mau, lantas Hank McCoy hanya dengan memakai sepatu, maka Professor Xavier memaknai perbedaan dirinya dengan meneliti kemungkinan faktor evolusi genetik secara ilmiah dan akademis. Karakter yang nantinya akan botak ini adalah penggambaran karakter leader dalam kaum mutan, dia hadir untuk menyemangati dengan keyakinan optimis bahwa suatu saat akan datang masa dimana kaum mutan diterima dengan baik oleh masyarakat.

Kesimpulan: Matthew Vaughn mengajak kita menelusuri sejarah fiksi lewat instalasi bernama X-Men First Class ke sebuah era awal group superhero yang mengalami krisis identitas dan bersetting ala Watchmen (2009) ini secara brillian, tidak latah dengan teknologi 3D, serta lebih intens menggali kisahnya hingga tak urung bahkan berubah jadi simpati terutama kepada karakter yang jelas-jelas di seri berikutnya menjadi main villain. Saya sih setuju saja ya bila sinyalemen First Class ini menjadi semacam reboot layaknya Batman-nya Christopher Nolan atau Star Trek-nya JJ. Abrams, supaya tidak merusak lebih jauh singkronisasi dengan tiga film sebelumnya. Demikian

Trivia:

  • Bryan Singer, sutradara film X-Men (2000) dan X2: United (2003) awalnya bersemangat untuk menyutradarai film X-Men First Class pada tahun 2009 lalu, namun pada bulan Maret tahun 2010 dia kadung teken kontrak untuk menggarap film Jack the Giant Killer (2012). Jadi di bulan Mei 2010, Matthew Vaughn resmi mengganti posisinya.
  • Sebelum direbut oleh Jennfier Lawrence, karakter Mystique dikabarkan akan di perankan oleh Amber Heard.
  • Karena terbentur jadwal syuting, Taylor Lautner yang sedianya akan memerankan karakter Hank McCoy (aka the Beast) akhirnya mundur dan diambil alih oleh Nicholas Hoult beberapa saat sebelum syuting dilaksanakan. Begitu pula dengan aktor Broadway, Benjamin Walker yang mundur karena terbentur dengan jadwal pementasan musikal “Bloody Bloody Andrew Jackson”. Nicholas Hoult lalu mengambil film X-Men: The Last Stand (2006) dan Frasier (1993) sebagai referensi.
  • Film ini diadaptasi dari komik X-Men berjudul Uncanny X-Men (1963) dan First Class (2006). Matthew Vaughn sendiri mengambil inspirasi untuk film X-Men First Class ini dari film-film awal James Bond (1960’an), reboot Star Trek (2009) dan dua film X-Men buatan Bryan Singer.
  • Menurut rencana, akan ada pertarungan sengit menggunakan telepati antara Professor X versus Emma Frost, namun dibatalkan mengingat adegan itu akan mirip dengan film garapan Christopher Nolan, Inception (2010).
  • You want to respect what someone else has done, especially because the fan base really liked what Ian has done with it. But while I could have gone and studied him as a young man and brought that to the performance, I don’t think Matthew is very interested in that. So I’m just going my own way and working with whatever is in the comic books and the script.” Kata Micahel Fassbender tentang karakter Magneto kaitannya dengan sir Ian McKellen, pemeran Magneto di trilogy film X-Men sebelumnya (2000-2006).
  • Hanya ada dua opsi nama yang dipilih oleh sang sutradara untuk karakter Sebastian Shaw, yakni: Collin Firth dan Kevin Bacon.
  • Spoiler alert: ada dua cameo di film ini, yang pertama adalah Hugh Jackman sang calon Wolverine dan Rebecca Romijin sebagai Mystique tua.
  • “Fox were saying, people want to see super heroes use their powers… but not in this film.” Ucap Matthew Vaughn mengenai ending yang seharusnya memperlihatkan adegan pertarungan dengan menggunakan kekuatan masing-masing antara Carles Xavier dan Erik Lenshern.


Kru dan Pemain:

  • Pemain: James McAvoy, Michael Fassbender, Kevin Bacon, Rose Byrne, Jennifer Lawrence, Oliver Platt, Alex Gonzales, Jason Flemyng, Zoe Kravitz, Nicholas Hoult, Hugh Jackman (cameo), Rebecca Romijin (cameo).
  • Sutradara: Matthew Vaughn.
  • Naskah: Ashley Edwrad Miller, Matthew Vaughn, Zack Stentz, Jane Goldman.
  • Produser: Gregory Goodman, Simon Kinberg, Lauren Shuler Donner, Bryan Singer.
  • Genre: Action, Adventure, Drama, Sci-Fi, Thriller.
  • Tanggal Rilis: 3 Juni 2011 (USA).
  • Rating: PG-13
  • Durasi: 132 Menit.
  • Sinematografi: John Mathieson.
  • Editing: Eddie Hamilton, Lee Smith.
  • Musik: Henry Jackman
  • Casting: Roger Mussenden, Jeremy Rich, Lucinda Syson.
  • Distributors: Bad Hat Harry Productions, Dooner’s Company, Marv Films, 20th Century Fox.

Sumber:

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: