Home > 2010, 3D, 4, ACTION, ADVENTURE, Animasi, Bioskop, FANTASY, Format, Genre, HOLLYWOOD, KOLOSAL, Month, Novel, Oktober, Rating, Region, Supermal XXI, Year > Review Film Legend Of The Guardians : The Owls Of Ga’Hoole 3D

Review Film Legend Of The Guardians : The Owls Of Ga’Hoole 3D

Pemain : Emily Barclay, Abbie Cornish, Essie davis, Adrienne DeFaria, Joel Edgerton, Deborra-Lee Furness, Sacha Horler, Bill Hunter, Ryan Kwanten, Anthony LaPaglia, Helen Mirren. 
Sutradara : Zack Snyder.
Naskah : John Orloff, Emil Stern.
Tanggal Rilis : 28 September 2010 (Indonesia)
Genre : Animasi, Adventure, Family.
Rating : PG.
Durasi : 90 Menit.
Produser : Zareh Nalbandian.
Distributor : Warner Bross.

Melihat seorang sineas muda mulai bersahabat dengan burung hantu dalam bentuk Animasi tiga dimensi mungkin terlihat wajar kecuali dia adalah sineas potensial yang selalu memberi kita sebuah film berating R (hanya diperuntukkan bagi penonton dewasa) dalam seluruh katalog karya sinematik sebelumnya, saya pribadi mengenal sineas kelahiran Wisconsin Amerika Serikat tanggal 1 Maret 1966 ini pertama kali lewat penuturan kisah horror bergenre zombie tentang kekacauan dunia saat wabah mengerikan menyebar kurang dari 24 jam dan membuat milliaran manusia menjadi mayat hidup penuh kegilaan tahun 2004 lalu, sebuah remake dari judul lawas tahun 1978 karya George A Romero dengan title lengkap Dawn Of The Dead. Zack Snyder memulai debut penyutradaraan film layar lebar dengan sesuatu yang berdarah-darah, sekuens yang menegangkan dibangun dengan bayang-bayang brutalitas dari ribuan zombie menjijikkan itu sendiri, mengerikan membayangkan semuanya terjadi begitu cepat, tidak pasti dan tanpa peringatan apapun.

Snyder dianggap sebagai sineas yang kembali mempopulerkan genre Zombie kepermukaan setelah sekian lama terpendam dalam liang lahat, namun di tahun 2007 Snyder merilis film adaptasi dari sebuah komik karangan Frank Miller berjudul 300. Sajian kolosal penuh dengan naluri kekerasan dan berujung perang akbar disebuah celah bukit sempit bernama Thermopylae yang mempertemukan Gerard Butler sebagai Leonidas, pemimpin 300 pasukan Sparta dengan Rodrigo Santoro sebagai penguasa tiran dari Persia beserta jutaan pasukannya yang terdiri dari sekumpulan manusia terlatih, hewan buas dan monster mengerikan serta memadukannya dengan musik rock yang keras. Bantuan teknologi efek visual komputer hampir 90% durasi dan adegan slow-motion setidaknya mengubah intensitas nudity & violence karya kedua Snyder menjadi tampak lebih lugas dan berkelas, visualisasinya lebih mengarah ke art. Namun bagaimanapun itu, 300 tetaplah film brutal dengan pamer visual muncratan darah dimana-mana, kepala dipenggal dan tumpukan mayat bergelimpangan.

Rekam jejak perjalanan Snyder kemudian singgah di Amerika beberapa abad lalu saat ketegangan antara Amerika dan Russia mengalami pasang surut, film noir superhero era klasik yang menguak peristiwa penting tentang siapa pelaku pembunuhan Presiden John F Kennedy, kemenangan Amerika melawan Vietnam dengan bantuan salah satu superhero berwarna biru akibat radiasi nuklir bernama Dr. Manhattan/Jon Osterman (yang diperankan oleh aktor film Almost Famous – 2000, Billy Crudup) adalah sekelumit mengenai komplektisitas film yang di adaptasi dari selusin novel grafis karya Alan Moore dan Zack Snyder berhasil melaluinya dengan bryllian. Eksplorasi yang mengubah tatanan sejarah panjang politik negeri Paman Sam hanyalah bagian luar karena Snyder kemudian mengajak kita untuk lebih intens memasuki wilayah yang lebih spesifik dan lebih kelam yakni sisi kemanusiaan yang ditampilkan begitu getir dan sakit, hampir semua karakter pahlawan ditampilkan mempunyai komplikasi serius diranah itu dan itulah yang membedakannya dengan film Dawn Of The Dead (2004) dan 300 (2007).

Membaca silsilah sinematik sineas dengan aura khas yang kelam ini kemudian mencoba memberi kita sebuah film untuk konsumsi keluarga (khususnya anak-anak dibawah umur) yang bergenre kartun animasi dan didapuk menjadi sajian teknologi tiga dimensi (3-D) adalah pertanda yang mengejutkan, saya membayangkan beberapa burung hantu berseteru dengan cara saling mencabik-cabik hingga tewas dan tabrakan keras helm yang mereka pakai hingga memercikkan api sebelum saya benar-benar menyaksikannya dibioskop (lewat tayangan 3-D) tanggal 04 Oktober lalu di Supermal Pakuwon Indah, Surabaya. Film tentang pertarungan antara yang baik dan yang jahat ini juga sekaligus menambah daftar film animasi tahun 2010 yang rata-rata memang dibuat secara 3-D untuk meraih lebih banyak lagi pemasukan bagi studio, ya karena harga tiket 3-D dua kali lebih mahal ketimbang yang reguler. Sebelumnya ada Hiccup yang berhasil menjinakkan puluhan naga liar dalam How To Train Your Dragon dibulan Maret, menjadikannya salah satu karya terhebat dari Dreamwork meski berada dibawah Kungfu Panda.

Shrek Forever After yang juga karya Dreamwork, pendatang baru yang menghadirkan ribuan makhluk kuning lucu dan imut bernama minions tentang perseteruan abadi dua penjahat untuk menunjukkan siapa yang paling hebat (dalam hal kejahatan) diantara keduanya dalam film Despicable Me yang kemudian disusul oleh Lee Unkrich yang mengarahkan animasi hebat perjalanan panjang persahabatan antara mainan dan majikannya (Andy) dalam mahakarya persembahan dari dedengkot raksasa film animasi, Pixar Animation Studio berjudul Toy Story 3 dengan short filmnya, Day And Night. Mendapati Snyder berada ditengah-tengah ke empat film animasi diatas, serta mengkorelasikannya dengan ketiga karyanya yang penuh dengan kekerasan membuat saya tersenyum dan bertanya-tanya tentang sehebat apakah yang melatarbelakangi Snyder bersedia mengarahkan kisah burung hantu adaptasi dari novel karangan Kathryn Lasky, meski bisa dibilang efek 3-D nya terasa nendang alias eye-popping banget seperti terasa keluar dari layar terutama saat salah satu tokoh burung hantu (Soren) berlatih dibawah badai ditengah lautan.

Selain bergumul dengan genre baru, Snyder juga merilis Legend Of The Guardians : The Owls Of Ga’Hoole dibulan sepi pasca pesta summer (dari bulan Mei hingga bulan Agustus), Oktober dan itu adalah jadwal baru karena ketiga karya sebelumnya selalu jatuh pada bulan Maret sesuai dengan bulan kelahirannya (dan juga bulan kelahiran saya-promosi, hehe *gak nyambung*) sangat berisiko dan terbukti demikian, Snyder mulai meniru jejak langkah Ice Age 3 : Dawn Of The Dinosaurs yang dirilis dibulan Juli 2009, padahal dua seri Ice Age sebelumnya, Ice Age (2002) dan Ice Age : The Meltdown (2006) sama-sama dirilis bulan Maret, ketiganya secara berurutan menghasilkan box office (wilayah domestik, USA) sebesar 176 juta dollar untuk yang pertama, 195 juta dollar untuk yang kedua dan 196 juta dollar untuk yang ketiga. Sedangkan keempat karya Snyder secara berurutan tahun rilis menghasilkan pendapatan box office sebesar 59 juta dollar untuk Dawn Of The Dead (2004), 210 juta dollar untuk film 300 (2007), 107 juta dollar untuk Watchmen yang dirilis tahun 2009 dan 31 juta dollar pemasukan sementara (minggu kedua hingga 3 Oktober 2010) untuk Legend Of The Guardians : The Owls Of Ga’Hoole dengan opening hanya sebesar 16 juta dollar saja alias terendah dan lebih rendah ketimbang opening Dawn Of The Dead (26 juta dollar)

Jika saya boleh menerka dan menyimpulkan, Snyder melihat potensi Ga’Hoole seperti melihat 300 versi burung hantu, melihat bahwa The Guardians adalah pasukan Sparta yang jumlahnya sedikit melawan kekuatan gelap yang juga digambarkan memiliki aura mistis yang menyebut dirinya Pure Ones sebagai penguasa lalim, layaknya Xerses dengan kaki tangannya yang jahat dan mistis namun dengan cara yang lebih halus nan lembut yang diwakili oleh karakter burung hantu mungil yang masih berusia belia bernama Eglantine (kalau tidak salah menyebut nama) Begitupula dengan alasan bahwa dia ingin membuat karya yang akan ditonton dan disukai oleh anaknya, okelah itu bisa diterima dan memang terlihat lembut diawal kisah saat kedua golongan baik The Guardians maupun The Pure Ones masih dalam bentuk legenda yang sering diceritakan oleh ayahnya, Noctus (diperankan oleh Hugo Weaving) dan diyakini oleh Soren (diperankan oleh Jim Sturgess) dan seluruh keluarganya kecuali salah satu saudaranya, Kludd (diperankan oleh Ryan Kwanten) yang diakhir kisah akan membelot dan mengabdi menjadi pasukan paling setia Pure Ones pimpinan Metalbeak (diperankan oleh Joel Edgerton).

Namun jangan lupa meski tanpa rating R seperti yang biasa Snyder lakukan, naluri brutalitas dengan nada khasnya juga muncul disini, dia benar-benar mem-back-up 300 kedalam Ga’Hoole lewat pertarungan epic puluhan ksatria tangguh burung hantu yang terbukti masih keras dan ya bayangan saya ternyata menjadi kenyataan, mereka saling mencabik-cabik diudara menggunakan helm bahkan cakar yang dibalut dengan besi yang sangat tajam plus slow-motion menakjubkan minus muncrat darah dan daging berceceran tentunya. Saya lantas membayangkan apa yang akan terjadi jika ini bukan lagi versi untuk konsumsi bocah SD? Dan saya pikir Animal Logic telah berbuat dosa dengan mengotori tangannya karena berani memvisualisasikan kekerasan dalam film ini kecuali aksi kocak film pendek 3-D berjudul Fur Of Flying buatan Warner Bross yang menghiasi layar sebelum film Legend Of The Guardians : The Owls Of Ga’Hoole dimulai, sebab bagaimanapun saya belum melihat yang seperti itu di Happy Feat (dirilis tahun 2006) yang lebih bersahabat dengan tari-tarian dan berteman baik dengan Oscar selain karena suasananya yang memang putih bersih. Hanya saja, hasil rendering animasi dari Animal Logic memang terbukti sangat halus dan hidup.

Pembuktian bahwa pertemanan Snyder dengan Burung Hantu ternyata tampil mengesankan plus imbuhan slow-motion beserta chaostic-nya yang menegangkan, hebatnya, perlu diketahui bahwa saat ini Snyder sedang mulai memikirkan sekuel 300 yang berjudul Xerses serta kabar besar saat Sutradara The Dark Knight (2008) dan Inception (2010) yang duduk sebagai Produser film Superman terbaru itu memanggil dan menugaskan Zack Snyder sebagai sutradara film Superman yang ber-sub judul The Man Of Steel yang menurut rencana dari Warner Bross harus sudah dirilis tahun 2012 nanti. Sebelum itu, film terdekat yang kini sudah dalam tahap penyelesaian akhir berjudul Sucker Punch akan dirilis bulan Maret 2011 sekaligus mengembalikan Snyder ke bulan seperti rilisan seluruh film karyanya (kecuali Ga’Hoole) Sucker Punch sendiri banyak yang menyebutnya sebagai Alice In Wonderland with machine gun! Memiliki premis tentang mimpi dunia fantasy lima cewek tangguh, versi lebih atraktif dari karya Christoper Nolan, Inception (2010). Bocoran dari cuplikan trailer yang sudah banyak beredar di internet, banyak hal yang kita lihat disini, seperti campuran buah dalam blender. Ada desingan senjata api dan ratusan selongsongan peluru, pesawat tempur klasik yang bersetting era Perang Dunia, sabetan pedang samurai, gembong mafia berjas-dasi dan bergelut dengan robot canggih bermuka lucu serta semburan api dari mulut naga yang mengerikan, sangat sulit mencari korelasinya kecuali toh dalam mimpi semua hal dapat terjadi. Apakah anda sudah siap menunggu ketiga proyek filmnya hadir dibioskop hingga dua tahun kedepan?

Riwayat Tiket Bioskop : 

Title : Legend Of The Guardians : The Owls Of Ga’Hoole 3-D Date : Monday, 04 Oktober 2010 Time : 12.00 – 13.30 WIB Auditorium : Row B, Seat 10, Studio 02 Location : Supermal Pakuwon Indah/PTC (SUPERMAL XXI) Price : IDR 30.000

Share This Post On :
stLight.options({ publisher:’12345′ });
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: