Home > FILM, POSTER, REVIEW > REVIEW FILM : THE LOVELY BONES – [2009]

REVIEW FILM : THE LOVELY BONES – [2009]

Nah hasrat nonton film Lovely Bones sedari dulu akhirnya sukses juga, puas rasanya mengingat saya selalu mengagumi semua karya Peter Jackson sebelum film ini. Resolusi yang ingin diwujudkan oleh Sutradara yang kerap memakai teknology digital dalam setiap karyanya ini mungkin direspon kurang positif oleh penggemarnya, nama besar Lord Of The Ring dan Kingkong jelas menjadi batu sandungan yang akan selalu menghantui segala aspek kemungkinan terburuk dari drama adaptasi karangan Alice Sebolt ini. okelah Kingkong kita singkirkan terlebih dahulu meski film monyek raksasa tersebut masih sangat megah kecuali naskahnya yang berada pada level aman, adaptasi sebelumnya sungguh merupakan mahakarya yang terus terang berbeda level bila harus disandigkan dengan film Lovely Bones ini. namun usaha keras itu bukannya tidak ada, kisah tentang Sussie yang kental dengan aroma drama pembunuhan ini diterjemahkan dengan sangat baik, padaahal secara cerita sebenarnya agak sederhana. point possitif karya Peter Jackson ini [juga dalam versi Kingkong] terletak pada visualisasi mewah tiap scene yang dibangun sesuai suasana hati pemainnya.

.
Pemain : Mark Wahlberg, Susan Sarandon, Rachel Weisz, Stanley Tucci, Saouirse Ronan, Michael Imperioli, Jake Abel, Amanda Michalka.
Sutradara : Peter Jackson
Naskah : Fran Walsh dan Philippa Boyens
Tanggal Rilis : 7 April 2010 [Indonesia]
Durasi : 136 Menit
Jenis : Drama, Fantasy, Thriller
Tagline : The Story Of A Life And Everithing That Came After
Distributor : Dreamwork SKG
.
Sinopsis : Susie Salmon (Saoirse Ronan) sebenarnya hanya ingin mencari jalan paling singkat menuju rumahnya saat pulang sekolah. Celakanya ide sederhana ini berubah menjadi malapetaka ketika ia bertemu George Harvey (Stanley Tucci), tetangga Susie yang ternyata adalah seorang psikopat. Sayang semuanya sudah terlambat. George lantas memperkosa Susie dan menghabisi gadis belia ini. George kemudian memotong-motong tubuh Susie dan membuangnya di sebuah lubang di tempat yang terpencil. Tubuh Susie tak pernah ditemukan kecuali sepotong tangan yang tercecer saat George membuang tubuh Susie. Pasca kematian Susie ini, keluarga Susie mulai didera perasaan bersalah. Perlahan keluarga yang semula harmonis ini mulai terpecah belah. Jack (Mark Wahlberg), ayah Susie mulai sering mengurung diri sementara Abigail (Rachel Weisz), ibu Susie mulai dekat dengan detektif Len Fenerman (Michael Imperioli) yang menyelidiki kasus kematian Susie. Pada saat petunjuk mengenai kematian Susie mulai terungkap, George Harvey telah lama menghilang sementara keluarga mendiang Susie pun sudah terpecah-belah.

Review : Tidak ada yang keliru memang bila Peter mengangkat tema Drama, namun jujur bukan disinilah bidang Peter. meski baik LOTR maupun Kingkong masih berbau drama, tapi berbeda dengan drama yang diracik disini, film ini serasa kehilangan sentuhan Peter yang megah dan raksasa tanpa ada monster ganas seperti dalam LOTR dan tidak ada dinosaurus ngamuk seperti dalam Kingkong, jelas pilihan bangting setir ini bagi saya hanyalah uji coba dari Peter Jackson saja dengan bermain-main diluar kebiasaannya. akting pemainnya lantas hanya mengandalkan sussie seorang, Mark Walhberg tidak berkembang meski dibeberapa bagian terlihat menonjol. Susan Sarandon dan Rachel Weisz bermain baik namun masih berada dibawah film-film yang pernah membuatnya tenar sebelumnya, Stanley Tucci malah terlihat paling mempunyai greget dengan sifatnya yang misterius namun ternyata psikopat dan pelaku pelecehan seksual. Overall, mungkin meski hal ini tidak akan dipertahankan oleh Peter [semoga saja demikian] hemat saya, sebaiknya Peter menjauhi tema drama “sederhana” seperti ini. meski tetap karya yang satu ini tidak boleh dilewatkan begitu saja, namun gebrakan selanjutnya setidaknya jangan kemabli bermain-main dengan genre drama yang terbukti tidak laris dipasaran ini. Peter mungkin sudah kapok, dan hebatnya proyek Tintin dan The Hobbit bersama Steven Spielberg dan Guillermo Del Toro akan menandai kembalinya sang sutradara ke jalan yang benar yaitu fantasy.
Categories: FILM, POSTER, REVIEW
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: