Home > 2009, DRAMA, DVD, FILM, HOME VIDEO, INDONESIA, KIDS, POSTER, REVIEW, SCHOOL, SPORT > REVIEW FILM : GARUDA DI DADAKU [2009] – SEMANGAT ITU HARUS DIMULAI SEJAK KECIL

REVIEW FILM : GARUDA DI DADAKU [2009] – SEMANGAT ITU HARUS DIMULAI SEJAK KECIL

Postingan Film Pertama di Blog ini, Selamat Membaca..
_
*****
Akhirnya film lokal yang bertema lain selain setan pocong dan kroco-kroconya, komedi esek-esek yang vulgar dan hanya menjual aurat terutama bagian dada pantat dan paha, dan cinta-cintaan yang makin monoton datang juga, mirisnya perilisan film ini harus bersaing ketat dengan studio sebelah yang memutar film popcorn semisal Ketika Cinta Bertasbih [KCB],  Transformers : Revenge Of The Fallen [TROTF], dan King yang ber-tone sama akhir juli kemaren. Lelah juga rasanya mata ini dijejali oleh film kurang baik dalam genre yang tidak jauh-jauh dari seks, komedi, dan horror, beralih ke tontonan barat mau tidak mau menjadi alternatif utama untuk mengusir stress akibat film bikinan lokal yang mutunya itu-itu saja. Padahal sebagai warga negara yang baik dan rajin membayar pajak *nggak nyambung* minimal kita mencintai atau mencoba untuk respect kepada film buatan tangan sineas negeri sendiri ketimbang malah doyan film asing yang tentu tak sebudaya dengan kita, namun sial-seribu-sial bila film yang dibuat ternyata masih berkiblat kepada film barat, bukan film barat berkualitas oscar tapi jauh dari sana.
*****

Kini film yang diperan utamai oleh Emir Mahira ini masuk juga kedapur VCD dan DVD. Garuda di Dadaku bercerita tentang seorang bocah SD bernama Bayu (Emir Mahira) yang punya impian masuk timnas U-13, namun sayangnya keinginannya ini ditentang keras oleh kakeknya yang kolot, Pak Usman (Ikranagara). Tapi Bayu dibantu oleh temannya Heri (Aldo Tansani) yang juga pecinta sepak bola namun cacat fisik, Bayu akhirnya berhasil bertemu dengan pelatih sepakbola dan lolos uji seleksi timnas. Sesederhana itulah premis dari film ini, namun meski demikian pesan yang dikumandangkan langsung menancap dihati tentang semangat pantang menyerah, perjuangan, impian, dan persahabatan. Menilik perjuangan berat diatas, prihatin rasanya ketika kita kaitkan dunia sepak bola dalam film ini dengan realitas yang sebenarnya dilapangan. Persepakbolaan kita penuh dengan ketidakpastian, tawuran dimana-mana, indisipliner diantara pemain, dan rusaknya oragnisasi dalam tubuh pengurus sepakbola hingga masalah baik internal maupun eksternal lainnya. Perjuangan susah payah untuk menyadarkan semua pihak yang peduli bola seakan sirna tanpa bekas jika melihat kenyataan diatas, Theme Song yang dinyanyikan oleh group musik Netral bukannya membuat kita semangat untuk memperbaiki sistem yang sudah akut, tetapi kita menangis karena prihatin. Tidak mampu memangku garuda yang sangat besar itu, malu rasanya.

*****

Kembali kefilm Garuda, sedikit memang orang yang merasa bangga menggunakan Kaos berlambang Garuda di dada, namun saya yakin kita akan merasakan kebesarannya lewat film anak-anak yang sangat di sukai orang dewasa ini, dan lambang tersebut seakan-akan menempel otomatis di tiap dada penonton. Pesan nasionalisme terasa sangat kental disini, yang malah menjadi janggal adalah anak-anak kecil jaman sekarang lebih suka ngantri tiket nonton film robot-robotan dan aksi superhero yang jelas-jelas bertuliskan “Khusus Dewasa” daripada sibuk lelah ngantri tiket nonton film ini. Mental generasi bangsa memang sedang dalam kondisi kritis, masih mending nonton film robot-robotan seperti kebanyakan antrian dibioskop minggu-minggu lalu saat garuda masih tayang, parahnya generasi muda sekarang telah diracuni oleh tayangan mimpi semu yang mampu merubah pola pikir mereka untuk lebih instan dan menjauhi proses panjang dibalik semua yang mereka lihat. Generasi kita kebanyakan mengkonsumsi sinetron mimpi, lagu cengeng, perilaku hedonis yang sebenarnya tidak mereka tau tentang dampak dimasa depan. Generasi audio visual jika bisa disimpulkan, banyak anak kecil sudah merokok, mabuk, memperkosa gadis seangkatannya, mencuri, nonton film porno, dan lain sebagainya. Well, di luar kondisi demografi penonton dan masyarakat umum terutama remaja di atas, kekurangan film ini adalah settingnya kurang megah terlebih pada sesi adegan pertandingan Sepak Bolanya. Mungkin karena emang hanya ingin menitikberatkan sisi dramanya ataukah kekurangan dana produksi ?? Film ini memang kurang sempurna, namun film Garuda Di Dadaku lebih wajib tonton dari pada Ketika Cinta Bertasbih dan Virgin 2 : Bukan Film Porno dan lebih pantas meraup penonton lebih banyak dari keduanya. Bagusnya film ini sukses menghajar “bokong” barisan Pocong, Kuntilanak, Pujangga kesiangan, dan artis bokep yang mencoba peruntungannya lewat film bioskop akhir-akhir ini.

*****

Piala Dunia memang masih jauh, namun setidaknya sebagai pemanasan film ini sangat manis untuk menemani anda menunggu perhelatan akbar empat tahunan tersebut lewat tayangan home video. tidak banyak film olah raga yang dibuat, tidak banyak pula yang berakhir manis, dan film ini jelas menjadi salah satu film olah raga bergenre sepak bola terbaik yang pernah dibuat. MERDEKA!!

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: