Home > Resensi > WALL-E

WALL-E

Romantisme dan sensasi eksperimen terbaru dari Pixar

Menyaksikan buah karya animasi terbaru Pixar, WALL-E, adalah pengalaman yang luar biasa bagi saya, revolusi penceritaan gaya baru dari eksperimen berisiko tinggi sutradara Finding Nemo, Andrew Stanton karena 80 % dari keseluruhan durasi nyaris tanpa dialog.

Mengisahkan tentang robot pembersih sampah, WALL-E, singkatan dari short for Waste Allocation Lift Loader, Earth-Class, bekerja sendirian di Bumi yang makin kotor dan tidak layak huni karena ulah manusia, seluruh manusia diungsikan ke sebuah pesawat luar angkasa bernama Axiom dan kisah romantismenya dengan EVE, singkatan dari short for Extra-terrestrial Vegetation Evaluator, sebuah robot pengontrol Bumi berjenis “perempuan”.

Premis yang semula berpotensi membosankan diatas berubah menjadi kisah yang mengharukan sekaligus lembut karena dituturkan dari sudut pandang robot malang pendaur ulang sampah ini.

Pencapaian luar biasa dari Pixar dalam percaturan dunia animasi lewat WALL-E adalah penekanan dari emosi gambar yang mereka ciptakan, tidak lagi kaku, komikal atau cartoonis, tetapi terlihat lebih manusiawi meski pada dasarnya mereka adalah robot, wa bil khusus hubungan romantisme antara WALL-E dan EVE yang sangat humanis. Sebuah batasan yang sangat sulit untuk ditandingi oleh pesaingnya, karena kemajuan pesat dari tahun ke tahun sejak Pixar memimpin sebagai pioneer film animasi CGI pertama lewat Toy Story berjalan dengan presisi kualitas dan kuantitas yang berimbang.

Dalam misinya kali ini, Andrew Stanton menyisipkan kritik sosial –yang saya akui memang terlalu berat untuk di serap keponakan anda- tentang banalitas manusia yang sudah berkurang kadar kemanusiaannya terhadap lingkungan saat digambarkan dalam masa depan yang penuh dengan sampah. Stanton seolah mengingatkan kita bahwa kemajuan teknologi dengan mengabaikan aspek lingkungan –yang dalam bahasa kita lebih akrab disebut kearifan lokal- akan berdampak negatif, pesan yang selalu diselipkan (meski secara implisit) oleh Hayao Mizayaki dari Jepang yang menggebrak lewat sajian anime dua dimensi tradisional bersama kerajaan studio animasi Ghibli-nya, Mizayaki dan John Lasetter (pendiri Pixar) adalah sahabat.

Andrew Stanton juga tak lupa mengkritik kapitalis dengan ikon Buy N’ Large, perusahaan raksasa yang bergerak diberbagai bidang hingga ekspansinya di Bulan dan penyedia layanan kehidupan baru untuk sementara waktu saat Bumi dalam masa pemulihan. Saya jadi membayangkan bahwa mereka adalah seorang sosialis (meski dalam pandangan kita, semua orang Amerika adalah antek kapitalis) dan aktif sebagai aktivis pro lingkungan.

Untuk sebuah karya sinematik indah dan syarat akan makna ini, sanjungan dan pujian patut saya haturkan sekaligus memasukkannya sebagai kandidat film terbaik tahun 2008 bersandingan dengan The Dark Knight, karya monumental Christopher Nolan.

Categories: Resensi
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: