Home > Resensi > Cloverfield

Cloverfield

Sensasi cara baru menebar teror kepada penonton

Pepatah lama mengatakan bahwa “konsumen itu adalah raja” bagi saya itu ada benarnya, setidaknya, sejauh ini terlihat seperti itu. Hollywood sebagai bagian dari industri yang merangkap industri kreatif sekaligus industri hiburan yang diwakili oleh filmaker baik produser, sutradara maupun penulis naskah rela melakukan apapun dari memaksa pemainnya menanggalkan pakaian hingga membakar hangus gedung bertingkat untuk menyenangkan “Raja” tadi.

Dengan imbalan, para raja – raja akan dengan senang hati menggelontorkan sedikit rezekinya untuk membeli tiket, home video dan segala pernak – perniknya (CD soundtrackd, poster, action figure de-el-el) dengan atau tanpa sekotak popcorn jika sang raja menyaksikan karya mereka di bioskop.

Dalam perkembangannya, mereka selalu mencari ide segar untuk menyuguhkan sesuatu yang baru pada tema tertentu, dan bahkan mereka berani bereksperimen dari yang paling basi sekalipun menjadi tampak “baru”, dengan contoh paling sederhana adalah bangkitnya genre gerombolan Zombie dari kuburan yang diakui kini berpenampilan cukup brutal (lihat kembali film Dawn of the Dead, rilisan tahun 2004). Dengan tanpa mengesampingkan sisi komersial tentunya, maksud saya, ujung – ujungnya dapet duit gito loh.

Jason Hawkins: You’re not good enough for her. That’s it. That’s fact. That’s science. Beth McIntyre is like from a whole nother planet, man. She’s beautiful, she’s charming. And you, I love you, but let’s face it you’re kind of a douchebag. And going to Japan is not going to fix that.

Saat kita sudah mulai bosan melihat cara bertutur sebuah cerita film yang mengalir lurus dari A sampai Z, mereka lalu memberi kita gaya penceritaan yang tidak lazim alias non-linear, plot melingkar dan bahkan seperti potongan puzzel yang tercerai – berai yang harus kita susun kembali.

Opsi selanjutnya adalah melanjutkan film – film yang terbukti mendulang emas, bila perlu hingga puluhan seri atau dibuatkan serial untuk konsumsi televisi berikut versi spin off salah satu karakter dalam film, versi kartun, maupun prekuelnya, untuk kasus film X-Men saya maklumi mengingat karakternya yang memang bejibun. Pilihan yang tidak kalah sakti mandraguna (atau sudah kehabisan ide?) adalah reboot atau remake film – film yang pernah mahsyur di jamannya, merubah yang klasik dengan imbuhan teknologi terkini mungkin bisa dimaafkan pun selain itu, juga bertujuan untuk menjaring pelanggan baru kecuali hal fundamental yang memang tidak boleh di utak – atik, seperti minuman soda (ambil contoh: Coca cola) yang pasti akan menimbulkan protes jika tiba – tiba tidak “krenyes – krenyes” lagi.🙂

Bila masih mandek ide, media kisah lain pun menjadi sasaran proyek selanjutnya mengingat yang ini hanya tinggal mengembangkan kisahnya saja seperti adaptasi dari komik, game, novel bahkan komik strip yang cuma sederet itu atau mencampur-adukkan semua genre menjadi adonan yang diharapkan, syukur – syukur kalo ternyata menjadi sub genre baru.

Well, Hollywood melalui perusahaan kecil langganan J.J. Abrams, Bad Robot, membuat film Colverfield yang saya anggap telah berhasil memberi pengalaman yang luar biasa mengerikan sekaligus misterius. Sebuah film yang tetap memakai pakem sederhana (bahkan cenderung mengulang) namun di buat dengan pendekatan berbeda, yaitu semi-dokumenter.

Jadi film Cloverfield -yang pada awalnya hanya ber-title 08-01-08- disyut bukan melalui kamera yang mahal, berat dan menghasilkan gambar yang jernih, melainkan handycam reguler seharga enam jutaan milik Rob Hawkins (diperankan oleh Michael Stahl-David) yang digenggam sekuat tenaga oleh Hudson-Hud-Platt, salah satu sahabatnya, sepanjang film.

Sehabis mendapat kejutan dari teman – temannya di hari spesial yang sialnya dia sendiri lupa, Rob Hawkins sekali lagi dikejutkan oleh pacarnya, Beth McIntyre (Odette Yustman) yang membawa laki – laki lain dipesta itu (ini kejutan yang sedikit menyakitkan, tentu). Namun kejutan yang sesungguhnya baru saja dimulai saat tiba – tiba gempa melanda kota New York malam itu, semua orang lari berhamburan di jalanan untuk menyelamatkan diri sekaligus mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.

Film bergulir bukan seperti melalui “mata malaikat” yang bisa melihat dari berbagai sudut nan mendetail serta tanpa batasan, kita hanya mampu melihatnya secara terbatas melalui sudut pandang mata kamera handycam tadi.

Dari sana, penonton seakan diajak kembali melihat momen – momen dramatis dalam sebuah tragedi besar yang tanpa sengaja terabadikan dalam kamera yang ditemukan oleh pihak militer Amerika di bawah jembatan ambruk, komplek Central Park. Namun sensasi yang didapat terasa sangat realistis sehingga kita mendapatkan feel yang baik dan ikutan panik serta penasaran tentang yang sebenarnya terjadi, meski akibatnya kita merasa agak pusing dan pening – pening dibuatnya, tetapi menurut pengakuan beberapa sahabat yang ikutan nonton (termasuk saya) sangat menyukainya. Sensasi sama yang kita rasakan saat menyaksikan film bergaya handheld camera paling fenomenal, Blair Witch Project. Bedanya, Cloverfield memiliki dana yang jauh lebih besar untuk meyakinkan apa yang kita lihat itu memang benar – benar nyata dan pernah terjadi sebelumnya.

Dalam menerjemahkan eksperimen anyar semacam ini memang akan menimbulkan dua reaksi yang bertolak belakang seperti dua sisi mata uang, yang pertama muak lalu menjilat karena kondisi gambar di layar bioskop yang selalu goyang – goyang tidak stabil, apalagi plot ceritanya pun lurus macam penggaris saja. dan yang kedua tentu memujinya setinggi langit saat menikmati chaos yang meski tidak begitu intens namun cukup menggetarkan seperti yang saya utarakan di atas.

Rob Hawkins : “My name is Robert Hawkins. It’s 6:42 AM on Saturday, May 23rd. Approximately seven hours ago, some… thing attacked the city. I don’t know what it is. If you found this tape, I mean if you’re watching this right now, then you probably know more about it than I do. Whatever it is, it killed my brother Jason Hawkins, it killed my best friend Hudson Platt and Marlena Diamond, and many many others. We’ve crashed into Central Park and we’ve taken shelter underneath this bridge. The military has begun bombing the creature and we’re caught in the middle. Okay, ready?”

Rob hawkins : “It’s oke”

Beth McIntyre : “I don’t know what to say”

Rob Hawkins : “Just tell them who you are”

Beth McIntyre : “My name is Elizbeth McIntyre. I don’t know why this is happening. And we’re going to wait here until this passes”

Hal yang buat saya masih menilai kurang dalam film ini adalah di bagian ending saat detik – detik menjelang tewasnya Hudson-Hud-Platt (spoiler, arrghh!), terasa dipaksakan bila tujuannya hanya untuk “memperlihatkan” tampang sang main villain, udah gitu ukurannya pun gak konsisten dengan adegan sebelumnya. Tidak jelas pula berapa lama kamera hidup (dan tetep merekam tentunya) pasca jatuhnya helicopter hingga pemain yang sebelumnya pingsan lalu bangun dan kembali menggenggam kamera bila total durasi film ini (tanpa kredit) disesuaikan dengan durasi maksimal dalam kaset MiniDV (lihat trivia di bagian bawah).

Diluar itu, tentu saya sangat menyukai film ini. Highly recomended lah ya.

NB : Pesan untuk diri saya dan semua penonton/pembaca yang budiman, segeralah menabung dan sisihkanlah sebagiannya untuk membeli sebuah kamera handycam. Bawalah kemanapun anda pergi, hal ini penting untuk bejaga – jaga suatu saat nanti kita mengalami peristiwa yang belum bisa kita prediksi sebelumnya seperti Rob Hawkins, Beth McIntyre, Hudson “Hud” Platt, Lily Ford, Jason Hawkins (saudara dari Rob Hawkins), Marlena Diamond dan sahabat – sahabatnya lewat film ini.

Sekaligus ya bisa dibuat eksperimen dengan sedikit improvisasilah, siapa tau nanti beneran jadi sineas🙂


Trivia :

  • Cuplikan pertama dari film ini diputar saat perilisan film Transformers (2007) dengan hanya menampilkan bencana di jantung kota New York serta kepala patung Liberty yang terhempas dijalanan, tanpa menyertakan judul filmnya.
  • Untuk menghindari kebocoran dini ke publik, syuting film Cloverfield memakai judul palsu yaitu “Slusho” untuk syuting di Los Angeles selama 34 hari dan “Cheese” untuk syuting di daerah New York.
  • Sangking ketatnya kerahasiaan plot film ini, Lizzy Caplin saat diaudisi mengaku belum tau akan bermain film apa, bahkan dia mengira ini adalah film romantis.
  • Beberapa scene film ini menggunakan Panasonic HVS200 Digital Video Camera, Thompson Grass Valley Viper Filmstream Digital Video Camera, dan Sony F23 Digital Video Camera.
  • Film ini hampir saja berjudul “Greyshot” sebelum akhirnya berjudul Cloverfield.
  • David Vickery (tim special effect) sengaja membuat ukuran kepala patung Liberty yang jatuh dijalanan setengah dari ukuran aslinya.
  • Durasi film ini (tanpa credit title) adalah 80 menit, durasi maksimal MiniDV tape.

Kru dan Pemain :

  • Pemain: Lizzy Caplan, Jessica Lucas, T.J. Miller, Michael Stahl-David, Mike Vogel, Odette Yustman, Anjul Nigam, Margot Farley, Theo Rossi, Brian Klugman, Ben Fledman, Lili Mirojnick, Chris Mulkey, Billy Brown.
  • Produser: J.J. Abrams, Bryan Burk, dan Sherryl Clark (Executive).
  • Sutradara: Matt Reeves.
  • Naskah : Drew Goddard.
  • Tanggal Rilis: 20 Februari 2008 (Indonesia).
  • Durasi: 85 Menit.
  • Rating: PG-13.
  • Genre: Action, Mistery, Sci-Fi, Thriller.
  • Sinematografi: Micahel Bonvillain.
  • Editing: Kevin Stitt.
  • Casting: Alyssa Weisberg.
  • Produksi: Paramount Pictures, Bad Robots

Sumber :

  1. http://www.allmoviephoto.com/photo/2008_cloverfield_002.html
  2. http://www.imdb.com/title/tt1060277/fullcredits#cast
  3. http://www.imdb.com/title/tt1060277/quotes
  4. http://www.impawards.com/2008/cloverfield.html
Categories: Resensi
  1. pam
    January 12, 2011 at 10:53 pm

    tulisan yang sangat bagus. gaya penulisannya beda. hanya sayangnya – belum mulai nulis lagi?

    ditunggu tulisan-tulisan baru dari hasil membaca film.

    salam kenal dari cibinong.

  2. January 30, 2011 at 3:53 pm

    Sebenarnya ada kesalahan, yakni pada kata “Turban” karena setelah dicari di wikipedia, artinya ternyata gempa yang biasa terjadi di dalam gua🙂 jadi seharusnya diganti Tumbukan Meteorit… Tapi saya pribadi sangat bahagia atas kunjungan, pujian dan komentarnya.

    Salam kenal juga..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: